Kajian Special Hari Ibu “Mendidik Anak Shalih-Shaliha”

Ahad, 23 Desember 2012. Ini kajian kesekian dari kajian rusunawa yang diadakan Kammi Shalahuddin Al-Ayyubi UNS. Kajian kali ini bertema “Medidik Anak Shalih-Shaliha”.

Pembicaranya adalah ust. Nasir beliau adalah pegiat TPA/TPQ di wilayah Surakarta yang merupakan ustadz spesialisasi guru TK. Sungguh, kajian dari beliau begitu menginspirasi peserta yang mengikuti kajian malam itu. Mulai dari muqoddimah, beliau buka dengan ucapan selamat hari Ibu, yang kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan, ”Bagaimana jika dunia tanpa ibu?” yang kemudian dijawab sendiri, “bapak bingung.” (diiringi dengan tawa renyah)
Beliau bertutur, bersama teman-teman dari Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) pernah mengadakan penelitian di sebuah SMP di Magetan. Penelitian ini berupa survey pada siswa yang berjumlah sekitar 278 anak. Mereka ditanya : pada siapa mereka pertama kali menceritakan masalah mereka? Hanya 7 orang saja yang menjawab dengan orangtuanya (ayah atau ibu). 271 siswa menjawab selain orangtua dan setelah dikroscek ke beberapa siswa, orang-orang pertama itu adalah ‘teman khusus’ mereka. Dengan kata lain orangtua tidak dipercaya oleh anak-anaknya menjadi tempat mereka berbagi cerita.

Kenapa bisa begitu? Ada beberapa sebab :

Pertama, semakin bertambah usia sang anak, semakin berkurang kasih sayang dan ungkapan cinta yang diberikan orangtuanya. Ketika bayi, perhatian yang diberikan sangat luar biasa. Bayi merengek misalnya, ibu/ayah akan langsung menggendongnya, anak balita akan lebih sering dituruti permintaannya. Memasuki usia sekolah, yang diperhatikan oleh orangtua adalah prestasi anaknya. Aspek yang lain, perkembangan psikis mereka kurang mendapat perhatian. Teringat pesan singkat yang dikirimkan seorang adik beberapa waktu yang lalu

Sampai sebesar ini, aku belum pernah mengatakan langsung pada orangtuaku “Aku sayang Ibu” atau “Aku sayang Bapak”. Sangat ingin sebenarnya, tapi selalu urung. Bukan karena tidak mau, tapi karena MALU.”

Ini masalah budaya. Ungkapan sayang yang jarang diterima anak dari orangtua, akan membuat anak juga sungkan untuk mengungkapkan pada orangtuanya. Akibatnya, mereka belajar tentang kasih sayang dan cinta dari orang lain, yang tentu saja pemahamannya akan menjadi sangat berbeda. Teringat (lagi) dengan diskusi PP KAMMI Shoyyub beberapa waktu lalu, bahwa ada beberapa hormon pada anak (terutama perempuan) yang akan berkembang jika mendapat stimulan perhatian dari laki-laki, yakni ayahnya (yang seharusnya memberikan) karena jika tidak, maka anak akan mencari dari selain ayahnya. Rasulullah sendiri sudah memberikan keteladanan tentang hal ini pada kita, diriwayatkan apabila Fathimah datang mengunjunginya, beliau selalu menyambutnya dengan ramah, lalu menciumnya dan berkata, ”Selamat datang, wahai putriku!” lalu beliau mendudukkannya di tempat duduk beliau. Bahkan Fathimah pernah beliau gendong walaupun sudah memasuki usia remaja.

Kedua, pertengkaran. Pertengkaran antara ayah-ibu atau antara orangtua-anak. Perselisihan merupakan hal yang wajar terjadi dalam sebuah rumah tangga, namun pengelolaannya yang harus disiasati. Orangtua tidak selayaknya bertengkar di hadapan anak-anaknya. namun, yang paling mengkhawatirkan adalah perselisihan orangtua-anak. Analoginya, ketika anak TK dimarahi orangtuanya. Jatuh dari pohon misalnya, kebanyakan orangtua akan mengatakan,

“tuh kaan, apa bapak/ibu bilang. Jatuh beneran kan, adek sih, bandel….”

Mari kita analisis kata-kata di atas. Orangtua cenderung menyalahkan, dan mengucapkan kata-kata yang negatif pada akhirnya, “bandel”. Bukankan ucapan orangtua untuk anaknya adalah do’a? Kata-kata di atas sangat tidak solutif. Maka, anak yang menerima kata-kata itu, akan bertambah kekesalan pada orangtuanya, kemudian mengecamkan dalam benaknya bahwa orangtuanya tidak membantu permasalahannya—–>>>butuh obat dan hiburan, karena jatuh dari pohon itu sakit.

Akibatnya anak akan menghindari konflik dengan orangtuanya, yang nantinya bermuara pada menghidar untuk berinteraksi. Ust. Nasir memberikan analogi yang sederhana, namun cukup mendalam. Ketika anak TK bertengkar dengan orangtuanya, yg dilakukan adalah masuk kamar, menutup telinga dengan bantal, agar tidak mendengar omelan orangtuanya. Menginjak usia SD, ketika berselisih mereka akan menghindar semakin jauh, pergi ke rumah tetangga. Meningkat di usia SMP dan SMA, ketika berselisih mereka akan minggat beberapa hari. Di perguruan tinggi, mereka akan malas untuk pulang dalam jangka waktu yang lama.

Ketiga,kebanyakan orangtua tidak menyadari bahwa memiliki anak adalah mengupayakan investasi untuk masa depan akhirat mereka. Dialah anak, harta terpendam orangtuanya. Doa anak shalih-shaliha adalah salat satu amalan yang tidak terputus ketika seseorang meninggal, bukan?. Oleh sebab itu, pembentukan karakter anak harus dimulai sedari mereka kecil, dari hal-hal yang sederhana. Pakaian untuk anak misalnya, kebanyakan orangtua membelikan baju yang bergambar tokoh animasi ataupun tokoh sinetron kesukaan anaknya. Tanpa mereka sadari, atribut yang dikenakan oleh anak-anak itu akan berpengaruh terhadap tingkah laku yang nantinya akan membentuk karakter mereka. Jika anak mengenakan kaos bergambar superhero, sudah tentu dia ingin menjadi superhero tersebut. Sehingga tanpa pandang dulu, dia akan melakukan kekerasan sewaktu-waktu terhadap teman bermainnya.

Ayah, ibu, calon ayah, dan calon ibu, mendidik anak bukan perkara mudah. Begitu besar tanggungjawab orangtua terhadap anaknya, hingga di akhirat nanti akan dimintai pertanggungjawaban. Allah sudah memberi peringatan pada QS. At-Tahrim : 6

“Wahai orang orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia Perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Sesholih apapun orangtua tidak akan bisa memberikan syafa’at untuk anaknya kelak di akhirat. Namun, anak sholih dapat menyelematkan orangtuanya. Kebaikan itu, lahir dari kebaikan sebelumnya. Jika sedari kecil orangtua menyia-nyiakan anak, tidak memperhatikan pendidikannya, maka ketika masa tua tiba, anak pun akan menyia-nyiakan orangtuanya. Berikan wasiat terbaik untuk anak-anak kita. Rasulullah sudah memberikan contohnya, beliau selalu mengunjungi kamar anak-anaknya sebelum beranjak tidur. Suatu ketika beliau sampai kamar Fathimah dan mendapatinya tidak bisa tidur, lalu

Fathimah bertanya apa yang seharusnya dia lakukan sebelum tidur. Dan Rasulullah menjawab, 4 hal : mengkhatamkan Al-Quran, bershalawat, berdo’a untuk kaum muslimin yang sudah mendahului, lalu berhaji dan umroh. Tentu saja fathimah merasa berat dengan jawaban Rasulullah, namun beliau menjelaskan

~membaca QS. Al-Ikhlas tiga kali sama dengan membaca 30 juz. Asal tidurnya disengaja, yakni diawali dengan berwudhu, bersiwak, kemudian berdo’a.
~bershalawat atas nabi, sama seperti shalawat saat kita shalat, atau berbagai versi yang ada.
~mendoakan kaum muslimin yang telah mendahului, Allahummaghfir lil mu’miniina wal mu’minaat..
~haji dan umroh dengan bacaan-bacaan tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir.

Terakhir namun manjadi yang paling penting, orang tua tidak bangga dengan keislamannya. Sehingga mereka bersikap tidak islami dan mendidik anaknya bukan dengan cara-cara islami. Ayah, ibu, calon ayah, dan calon ibu, perlu kita sadari, bahwa orangtua adalah teladan, role model bagi sang anak.

Jika orang tua tidak bisa menjadi teladan maka anak akan mencari teladan dari channel-channel televisi yang disediakan orangtuanya. Akibatnya sangat wajar jika orangtua tidak bangga dengan Islam, maka anak juga tidak akan cinta pada Rabb-nya, Rasul, dan agamanya.

Jadi, mari kita persiapkan wasiat terbaik untuk anak-anak kita. Jangan tinggalkan mereka dalam keadaan lemah. Dalam An-Nisaa’ ayat 9 Allah berfirman
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.
Berikan keteladan yang terbaik untuk anak kita, jangan pernah menyia-nyiakan mereka. Jadikan orangtua sebagai orang pertama ‘pelarian’nya. Tempat anak-anak menumpahkan segala permasalahannya. Jauhkan anak-anak dari hal-hal yang bisa menjauhkannya dari Islam. Wallahu’alam bishowab.

NB : ust. Nasir membawa buku ‘Metode Dokter Cilik’ (penulisnya lupa) dan Shirah Nabawi sebagai referensi. Ada juga positive parenting buat yang ingin belajar lebih banyak lagi😀

Categories: Uncategorized | 2 Komentar

Navigasi pos

2 thoughts on “Kajian Special Hari Ibu “Mendidik Anak Shalih-Shaliha”

  1. wah rijit sekali tulisan dari kajiannya, diramein lagi dong blognya… ditambah lagi menunya, misal tiap departemen di KAMMI itu punya menunya disini jadi bisa share tulisan sesuai dengan bidangnya… bisa dijadikan referensi http://kammikomsatugm.wordpress.com

  2. diramekan dong blognya.. oya, usul masukin tiap departemen di KAMMi itu di menu blog biar tiap departemennya bisa nge share tulisan sesuai dengan bidangnya.. keep Hamazah!🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

KAMMI Komisariat Djuanda

"Sejarah telah membuktikan peranan pemuda atau mahasiswa begitu penting dalam menggagas sebuah perubahan dalam suatu negara"

alqaan ilmi

kumpulan catatan kehidupan

Live to Write - Write to Live

We live to write and write to live ... professional writers talk about the craft and business of writing

The Thesis Whisperer

Just like the horse whisperer - but with more pages

KAMMI MADANI

Terus Berkarya dan Menginspirasi

KAMMI Komisariat UGM

KAMMI Komisariat UGM adalah Gerakan yang Memegang Teguh Asas Islam dan Kerakyatan. Menolak Penindasan Manusia atas Manusia!

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Perindu Doa Rabithah

Terkadang Melalui Dosa Kita Bisa Dewasa. Dewasa Menuju Pada Sebuah Kebaikan. Karena Kebaikan adalah Sebuah Proses Panjang yang Tak Bisa Kita Nilai Atas Apa yang Dilihat Hari ini

REKAYASA PERGERAKAN

Bergerak, Menginspirasi Selamanya

Rumus Kehidupan

Terinspirasi dan Menginspirasi dengan Ikhlas, just for ALLAH

Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Jurnal KAMMI Kultural

Referensi Pemikiran dan Ideologi KAMMI ::: POST-TARBIYAH ::: Corong Pembaharuan Gerakan Muda Islam Indonesia

Verba Volant, Scripta Manent

Berhati-hatilah terhadap asumsi, terkadang ia melukai hati, mematikan silaturahim

Alikta Hasnah Safitri

Menghaluskan Rasa, Menajamkan Pikir

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d blogger menyukai ini: