GALAU KARENA TAKLIMAT ?

Oleh Arif Satriantoro / Kader KAMMI Shalahuddin Al Ayyubi UNS

 

 

Jikapun kemudian orang menyalahkan tarbiyah ini karena sosok orangnya, ketahuilah, saya bertarbiyah karena sistem dan kaderisasinya, bukan karena orangnya. Sebagaimana saya ber-Indonesia karena bangsanya, bukan karena pejabatnya 

(tweets seorang kader)

 

Sudahkah kita mengenal tarbiyah dengan baik ?ataukah kita bagaikan mahluk yang terlampau egois,mengambil sisi yang disenangi dan membuang jauh sisi yang tidak disenangi dari tempat bernaung ini ?? Kadang hal ini seringlah terjadi di sekitar kita ,bagaimana kita menyebutnya sebagai orang yang abu2. Beberapa hal diterima tapi beberapa hal lain ditolak. Pemahaman akan sebuah entitas atau tempat kiat bernaung layaknya menjadi pertanda bentuk cinta dan kasih kita pada entitas tersebut.Tak kenal pun maka tak sayang,tak kenal pun maka tak mungkin memahaminya.Mencoba menyelami makna Tarbiyah yang begitu indah adanya,Dimana di dalam arti harfiah ,dia diartikan sebagai pembelajaran.Tarbiyah yang telah kita pilih sebagai tempat untuk  bermetamorfosa dan membentuk diri menjadi pribadi yang lebih baik,menjadi sesuatu tempat yang penuh misteri dan penuh teka teki bagi pribadi yang baru saja dihinggapi oleh mahluk ini. Betapa tidak, begitu lekatnya tarbiyah dengan doktrin dan sebagainya disatu sisi menimbulkan jiwa “pemberontakan” bagi orang yang baru saja berkenalan dengan mahluk yang satu ini.Pemberontakan dalam artian yaitu dimana ketika seseorang baru saja dihinggapi mahluk ini akan menolak secara terang-terangan karena penuh dengan jejalan dogma pemikiran yang menimbulkan kondisi di mana sedikit sekali ruang berpikir dan berdialektika,Tetapi di satu pihak jika orang tersebut menerima sistem yang ada  ,dia lambat laun ber Tarbiyah  dengan sendirinya.Tarbiyah memang kompleks, dan telah menjadi bahan diskursus yang tak pernah habis untuk terus dibahas pada saat ini.Tarbiyah yang menjadi salah satu Harokah yang ada di Indonesia turut mewarnai perkembangan islam pada konteks saat ini yang ada di Indonesia.Dengan pengadopsian sistem yang ada mencontoh dengan sistem ikhwanul muslimin ,gerakan tarbiyah sejak tahun 80an menjelma menjadi suatu gerakan yang masif dengan kampus kampus yang berada di perguruan tinggi negeri yang ada di Indonesia menjadi basisnya. Lalu dengan sistem penjagaan melalui forum halaqoh ,Tarbiyah membentuk para kader menjadi militan dan idiologis.Pola yang terjadi pada saat ini dimana para kader-kader tarbiyah yang memiliki segmen berasal dari kelas menengah dalam hal ini adalah mahasiswa,telah menjadi suatu hal yang menarik dimana akan adanya suatu kontradiksi yang bertemu  antara konsep sistem manhaj dakwah tarbiyah dengan logika berpikir kritis ala mahasiswa.

                                                            ###

Membahas tentang tarbiyah kiranya kita tidak bisa lepas dari posisi dimana kita harus membahas sistemnya serta siapa yang menjalankan sistem yang ada di dalamnya.Tarbiyah mau tidak mau harus menyatukan dua sisi yang amat sangat kontradiktif. Dimana sistem yang dibangun adalah bercorak  kemiliteran dan dibangaun di atas format doktrinasi yang bersifat mengikat .tetapi disatu sisi para kader tarbiyah mayoritas adalah berasal dari kaum menengah yaitu mahasiswa dari berbagai kampus PTN yang ada,utamanya yang secara pendidikan amat sangat rasional dan kritis.

Corak kemiliteran  dalam sistem tarbiyah bisa kita lihat dari sistem levelisasi yang ada dimana  melalui forum halaqoh membentuk sebuah piramida layaknya sistem MLM.Dimana adanya para Murrobi dan Muttarobi disatukan dalam sebuah bentuk penjagaan yang bernama forum halaqoh. Kader dijaga dan dibina sedemikian rupa di dalam forum ini ,dan tak lupa proses idiologisasi dilakukan di dalam proses ini,persis mirip seperti sistem sel yang dilakukan oleh gerakan komunis di jaman PKI.Sistem yang berjalan pun juga memberi levelisasi di mana setiap kader yang semakin tinggi levelnya akan diberi akses informasi yang lebih dibanding level yang lebih rendah.Semakin tinggi level semakin terbukalah hijab hijab itu.Tarbiyah menerapkan sistem organisasi yang begitu tertutup dan benar-benar rapi.Inilah yang membuat gerakan tarbiyah hampir mirip atau bahkan bisa dikatakan sama persis dengan sistem kemiliteran.Apalagi ditambah dengan adanya sistem komando (baca:taklimat ) yang sifatnya integralitas sesuai struktur semakin menambah kemiripan sistem tarbiyah dengan sistem kemiliteran.

Sistem integralitas dengan komando strukturalis menghasilkan  dogma qiyadah wal jundiyah menjadi ditanamkan di dalam benak kader kader yang berkonsekuensi secara tak langsung bahwa bagaimana ketaatan menjadi suatu hal yang penting ketika hidup dalam komunitas ini.Bagaimana suatu bangunan komunitas dibuat sedemikian idiologis dan militant dengan metode pensucian diri (tadzkiyatun nafs ) yang berbau sufistik  yang dengan pendekatan metafisis  dimana akhirnya kader benar benar terjaga dalam proses pola pikirnya.Yang terjadi yaitu kita sebagai kader dapat merasakan adanya suatu keterikatan batin dan hati yang kadang sukar untuk dijelaskan dengan kata-kata.Lalu pada akhirnya ketaatan dan kepatuhan menjadi hal yang terjadi dengan otomatis ketika kita hidup dalam komunitas yang bernama tarbiyah ini.

                                                ##########

Banyak terjadi  peristiwa dimana adanya suatu taklimat kepada kader-kadernya lalu terjadi suatu sikap menuruti taklimat tersebut atau bahkan tidak menurutinya sama sekali .Biasanya para kader yang berada dalam posisi bukan pembuat kebijakan bersikap tidak menerima taklimat ketika suatu keputusan dari taklimat tersebut tidaklah rasional dan logis.Lalu bagaimana posisi peran akal dan rasio dalam kita bertarbiyah jika suatu taklimat terkadang tidak selalu rasional dan logis? apakah tarbiyah bisa mematikan akal dan rasio dalam berpikir bebas. Saya katakan tidak .Bahwa tarbiyah tetaplah menjunjung tinggi akal dan rasio namun akal dan rasio juga bukanlah segalanya.Ada suatu upaya jalan tengah yang ditawarkan oleh sistem ini.

Bahwa ketika suatu proses kebijakan belum lah dikeluarkan atau masih dalam “proses” ,menurut penulis ,inilah waktu yang tepat segala daya dan upaya akal dan logika untuk menafsirkan suatu hal atau terkait permasalahan yang akan diputuskan.Tetapi justru disinilah letak keindahan dari Tarbiyah.Ketika “orang-orang” yang sudah memenuhi kualifikasi dan yang secara posisi struktural lebih berhak untuk memutuskan sudah memtuskan suatu kebijakan secara final ,apapun ijtihajd masing masing pribadi yang ada di tempat ini haruslah mengikuti dan “legowo”.Disinilah kita semua diajarkan bagaimana ilmu keikhlasan itu. Sulit memang,bagaimana pada dasarnya manusia adalah hakikatnya mahluk yang lapar akan ego.Tetapi ini lah yang harus menjadi pemahaman bersama bahwa kepentingan bersama adalah lebih baik dibanding hanya sekedar menuruti kepentingan ego pribadi masing-masing dari kita .        

                                                            #####

Imam hasan al banna telah mengajarkan bagaimana tata cara berjamaah yang baik dan benar (shidqul intima ).Memandang tarbiyah sebagai suatu organisasi kiranya tidaklah sepenuhnya tepat.Organisasi bisa bubar jalan ketika sudah tidak ada kesamaan visi misi,dan ini tidak bisa disamakan ketika kita hidup dalam berjamaah.

  Shidqul intima’ yaitu tata cara berjamaah yang benar sedikitnya bisa menjadi jawaban atas dasar kegelisahan kita yang terkadang masih mempertanyakan taklimat di suatu momen tertentu.Memakai logika organisasi dalam konteks kejamaahan kiranya tidak sepenuhnya benar.Jamaah amat sangat berbeda dengan tajammu’.Dalam organisasi atau tajammu’ bisa bubar atau berdiri berdasarkan kesenangan atau keinginan personal ,ini tentulah berbeda dengan jamaah yang diatur secara jelas karena memiliki manhaj hayah dan sistem yang mengikat.

Betapa pentingnya konteks  berjamaah dengan Mendisiplinkan barisan agar tidak terjadi inhiraf dalam pemahaman, pemikiran ataupun perilaku bermaksud supaya jamaah tetaplah padu dan tidak dirusak oleh orang diluar yang ingin menggembosi barisan ini.Inilah yang kadang tidak disadari bagaimana ketika seseorang yang sudah memutuskan akal lah yang menjadi raja berusaha membuat arus baru di dalam tempat kita bernaung.Memilih untuk melawan tanpa berpikir dampak yang ditimbulkan serta dapat ditumpangi oleh penumpang gelap yang tidak suka dengan entitas ini.Pola sikap inilah yang justru tidak menunjukkan kedewasaan dalam bertarbiyah.

                                                            ###

Tarbiyah sebenarnya memberikan kita banyak pembelajaran dan pendewasaan bagi kita yang bernaung di bawahnya jika kita dapat memaknainya secara lebih mendalam.Dimana Tarbiyah mengajarkan bagaimana kita haruslah adil dalam mengelola akal maupun hati .ketika hati terlalu dominan rem lah dengan akal pun juga sebaliknya ketika akal terlalu dominan maka rem lah dengan hati.

Mengharapkan tarbiyah menjadi suatu tempat yang homogen pada saat ini kiranya menjadi hal yang agak utopis.Robets michelss mengatakan semakin besar sebuah entitas, semakin banyak kepala yang masuk, semakin akan terbentuk faksi di pucuk pimpinannya.Dan inilah yang terjadi pada saat ini di tempat kita bernaung.

Pun juga di sisi lain adalah bagaimana terjadi penguatan kaum-kaum intelektual di dalam barisan tempat kita yang terkadang mempertanyakan produk kebijakan dari sistem . Di satu sisi kiranya dapat menjadikan ibroh bahwasanya di satu sisi penguatan kaum-kaum intelektual yang biasanya amat sangat rasionalis kiranya dapat  mengkontrol arah dan kebijakan dari hasil sistem yang ada.Dalam artian jika sikap mereka tidak sampai dalam membuat inhiraf dalam gerakan.Alias sebatas sampai tataran pemikiran dan dialektika saja,tidak sampai membuat “gerakan” dalam gerakan.

Di akhir tulisan ini , Saya teringat perkataan Imam hasan al banna yang kurang lebih isinya adalah seperti ini  “Kekanglah lompatan-lompatan emosi dengan akal, dan terangi cahaya akal dengan bara emosi, kekang khayalan yang ada dengan kebenaran hakikat dan realiti, ungkap berbagai hakikat dalam sorotan khayalan yang memukau dan berkilau, dan janganlah seluruh kecenderungan diikuti, sebab ia akan menjadikannya seperti tergantung (tidak membumi dan tidak pula melangit)”.

Bagaimana Jangan sampai sikap kita justru menunjukkan ketidakpahaman kita.Atau bahkan mungkin kita sudah paham tapi hanya terlampau egois.Kenalilah secara  mendalam barulah kita bersikap secara benar.Jangan sampai ada dominasi akal atas hati dan juga sebaliknya jangan sampai ada dominasi hati atas akal.Kritis ,paham dan taat adalah kata kunci ketika kita ingin bertarbiyah secara dewasa.Dan bibit –bibit itulah yang saat ini tampaknya mulai ditunggu kehadirannya oleh waktu .Ya ,memunggu datangnya para kader kader kritis ,paham,dan juga taat muncul bermekaran layaknya bunga yang hadir di musim semi.

 

Categories: Uncategorized | 2 Komentar

Navigasi pos

2 thoughts on “GALAU KARENA TAKLIMAT ?

  1. sepakat..bahwa “manusia itu haus dan lapar akan “ego”…hm, tugas kita berarti memehamkan kepada yang belum paham,betul? pengen musim semi ni si marcelll,hehe

    • memahamkan boleh, asal tidak memaksakan.
      karena masing2 individu maupun kelompok memiliki argumentasi yang menyertakan fakta atas tindakan yang dilakukan.
      terimakasih atas komentarnya, akh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

KAMMI Komisariat Djuanda

"Sejarah telah membuktikan peranan pemuda atau mahasiswa begitu penting dalam menggagas sebuah perubahan dalam suatu negara"

alqaan ilmi

kumpulan catatan kehidupan

Live to Write - Write to Live

We live to write and write to live ... professional writers talk about the craft and business of writing

The Thesis Whisperer

Just like the horse whisperer - but with more pages

KAMMI MADANI

Terus Berkarya dan Menginspirasi

KAMMI Komisariat UGM

KAMMI Komisariat UGM adalah Gerakan yang Memegang Teguh Asas Islam dan Kerakyatan. Menolak Penindasan Manusia atas Manusia!

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Perindu Doa Rabithah

Terkadang Melalui Dosa Kita Bisa Dewasa. Dewasa Menuju Pada Sebuah Kebaikan. Karena Kebaikan adalah Sebuah Proses Panjang yang Tak Bisa Kita Nilai Atas Apa yang Dilihat Hari ini

REKAYASA PERGERAKAN

Bergerak, Menginspirasi Selamanya

Rumus Kehidupan

Terinspirasi dan Menginspirasi dengan Ikhlas, just for ALLAH

Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Jurnal KAMMI Kultural

Referensi Pemikiran dan Ideologi KAMMI ::: POST-TARBIYAH ::: Corong Pembaharuan Gerakan Muda Islam Indonesia

Verba Volant, Scripta Manent

Berhati-hatilah terhadap asumsi, terkadang ia melukai hati, mematikan silaturahim

Alikta Hasnah Safitri

Menghaluskan Rasa, Menajamkan Pikir

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d blogger menyukai ini: