MENENGOK DINASTI PARA PERINDU LANGIT

Oleh : Hanafi Ridwan Dwiatmojo/ Kader KAMMI Shoyyub UNS

Gambar

Sesungguhnya, sebuah pemikiran itu akan berhasil diwujudkan manakala kuat rasa keyakinan kepadanya, ikhlas dalam berjuang di jalannya, semakin bersemangat dalam merealisasikannya, dan kesiapan untuk beramal dan berkorban dalam mewujudkannya. Sepertinya keempat rukun ini, yakni iman, ikhlas, semangat, dan  amal merupakan karekter yang melekat pada diri pemuda, karena sesungguhnya dasar keimanan itu adalah nurani yang menyala, dasar keikhlasan adalah hati yang bertaqwa, dasar semangat adalah perasaan yang menggelora, dan dasar amal adalah kemauan yang kuat. Itu semua tidak terdapat kecuali pada diri para pemuda.

Oleh karena itu, sejak dulu hingga sekarang pemuda merupakan pilar

kebangkitan. Dalam setiap kebangkitan, pemuda merupakan rahasia kekuatannya. Dalam setiap fikrah, pemuda adalah pengibar panji-panjinya.

“Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk.” (Al-Kahfi: 13)

[Majmu’atur Rasail]

        Kalimat itulah yang apabila dibaca berapa kali pun banyaknya tidak akan ada nada bosan yang terdengar. Entah bagaimana dulu frasa itu terangkai sehingga setiap pemuda yang saat ini membawa panji-panji perjuangan itu akan senantiasa berkobar semangat dalam dada saat membacanya. Seakan terbayang sedang berada di garis depan mendan jihad. Tak terbersit sedikit pun rasa takut. Bahkan yang terbayang adalah sebuah cita-cita tertinggi yang akan bisa segera diraih. Syahid fisabilillah.

          Ya memang baru sebatas ada dalam angan. Apa yang kami lakukan belum seheroik para manusia langit utusan Allah Al ‘aziz yang kisahnya tersimpan abadi dalam ayat-ayat Illahi. Belum setangguh para mujahidin perebut pintu gerbang kekuasaan Islam di Konstantinopel, Andalusia, Cordova, Sisilia, dan masih banyak lainnya. Belum pula semegah para pembangun imperium Islam di masa Khulafaur rasyidin dan para penerusnya.

          Kisah yang kami torehkan hanyalah setitik kecil di tengah hamparan samudera perjuangan di tanah Nusantara. Hanyalah setetes darah di tengah aliran sungai darah para syuhada yang memperjuangkan tegakknya panji Islam di bumi pertiwi. Hanya sedikit ruang berpikir di tengah gerombolan ide-ide cemerlang yang penah bermunculan di negeri ini. Itulah yang seakan membuat margin yang teramat jauh untuk didekati.

            Tapi sayangnya kami bukanlah kaum yang mendadak melankolis melihat sejarah yang bersinar terang menyilaukan mata. Kami adalah generasi yang senantiasa berharap menjadi refleksi dari sebuah firman yang diabadikan dalam surat Al Maidah ayat 54:

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.”

            Adalah sebuah kehormatan bagi kami menjadi generasi pewaris para nabi dan rasul. Pewaris para manusia langit yang membawa cahaya Illahi untuk menerangi bumi. Adalah suatu kebanggan bagi kami, untuk meneruskan risalah dakwah yang pernah mencapai puncak kejayaannya. Meneruskan estafet kepemimpinan Islam dan memenangkannya di atas semua agama. Adalah sebuah kebahagiaan tak terkira bisa tergabung dalam barisan pengusung panji-panji Islam menuju kejayaannya sekali lagi. Menjadi soko guru peradaban manusia. Menjadi imperium alam semesta yang berdiri kokoh di atas tanah para raja.

           Kami adalah segerombolan pemuda yang mengaku bersaudara. Persaudaran kami tidak terbatas pada pertalian darah. Tidak terkungkung oleh suku dan ras. Tapi persaudaraan kami telah ada bahkan sebelum kami menatap dunia. Karena persaudaraan kami adalah persaudaraan yang terikat aqidah. Dan dimanapun ada manusia yang mengikrarkan syahadat, maka disitulah tanah air kami. Hingga pada akhirnya dinasti inilah yang terbentuk semenjak generasi pendahulu kami ada. Dinasti inilah dinasti para manusia perindu surga. Sang manusia perindu langit.

 

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

KAMMI Komisariat Djuanda

"Sejarah telah membuktikan peranan pemuda atau mahasiswa begitu penting dalam menggagas sebuah perubahan dalam suatu negara"

alqaan ilmi

kumpulan catatan kehidupan

Live to Write - Write to Live

We live to write and write to live ... professional writers talk about the craft and business of writing

The Thesis Whisperer

Just like the horse whisperer - but with more pages

KAMMI MADANI

Terus Berkarya dan Menginspirasi

KAMMI Komisariat UGM

KAMMI Komisariat UGM adalah Gerakan yang Memegang Teguh Asas Islam dan Kerakyatan. Menolak Penindasan Manusia atas Manusia!

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Perindu Doa Rabithah

Terkadang Melalui Dosa Kita Bisa Dewasa. Dewasa Menuju Pada Sebuah Kebaikan. Karena Kebaikan adalah Sebuah Proses Panjang yang Tak Bisa Kita Nilai Atas Apa yang Dilihat Hari ini

REKAYASA PERGERAKAN

Bergerak, Menginspirasi Selamanya

Rumus Kehidupan

Terinspirasi dan Menginspirasi dengan Ikhlas, just for ALLAH

Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Jurnal KAMMI Kultural

Referensi Pemikiran dan Ideologi KAMMI ::: POST-TARBIYAH ::: Corong Pembaharuan Gerakan Muda Islam Indonesia

Verba Volant, Scripta Manent

Berhati-hatilah terhadap asumsi, terkadang ia melukai hati, mematikan silaturahim

Alikta Hasnah Safitri

Menghaluskan Rasa, Menajamkan Pikir

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d blogger menyukai ini: