Menggagas Pendidikan Agama di Sekolah Dasar

oleh : Alikta Hasnah Safitri*

“Salah satu penyakit teoritis di dunia Islam yang paling berat, pada umumnya, adalah bahwa orang lebih memahami Islam sebagai identitas daripada sebagai kebenaran.” (Abdul Karim Soroush)

Pendidikan adalah landasan utama guna membangun peradaban bangsa. Sehingga kesadaran akan arti penting kualitas pendidikan harusnya membuat setiap dari kita mulai melek akan realitas dari substansi, materi, dan metodologi yang diterapkan dalam kurikulum pendidikan di Indonesia saat ini. Apakah keseluruhan rangkaian proses pendidikan itu mencerminkan nilai-nilai keilmiahan dan akuntabilitas yang ter-manage dengan baik? Ataukah masih berupa generalisir akan adopsi berlebih kurikulum dari negara lain?

 Jika dalam konteks penjajahan kolonial tempo dulu pendidikan lebih diorientasikan untuk kepentingan melawan penjajahan kolonial, lalu dalam konteks saat ini, ketika problem bangsa sudah semakin rumit, kemanakah pendidikan nasional seharusnya diarahkan? Lalu, pendidikan seperti apakah yang semestinya dikembangkan untuk ‘mencerdaskan’ kehidupan kita sebagai individu dan sebagai warga negara?

Dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia, maka diselenggarakanlah suatu sistem pendidikan nasional dengan fungsi dan tujuan yang tercantum dalam UU Sisdiknas tahun 2003 pasal 3 sebagai berikut : Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Dari fungsi dan tujuan di atas dapat disimpulkan bahwa dengan pendidikan dan pengajaran tersebut, peserta didik diharapkan dapat memperoleh pengetahuan dasar sebagai bekal untuk turut andil dan mengambil peran strategis dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. 

Pun, dewasa ini, pendidikan mulai mengalami transformasi dengan maraknya kampanye mengenai penanaman dan peningkatan moralitas bangsa melaui pendidikan karakter khususnya pada pendidikan dasar (Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama).  

Ini merupakan salah satu bentuk jawaban yang merespon keprihatinan masyarakat mengenai rendahnya moralitas bangsa yang kian lama kian terpuruk dengan melihat sejumlah besar kasus korupsi, pelecehan, dan eksploitasi yang dilakukan oleh kelompok elite atau terdidik pada kelompok marginal yang kurang beruntung mengenyam pendidikan.

Lalu, mengapa pendidikan dasar mendapatkan porsi perhatian yang lebih dibandingkan jenjang pendidikan yang lain? Berdasarkan analisa tugas-tugas masa perkembangan anak oleh Carolyn Triyon dan JW Lilitenthal[1], disebutkan tugas perkembangan tersebut antara lain:

  1. Berkembang menjadi pribadi yang mandiri pada tingkat kemandirian yang sesuai dengan tingkat usia sekolah dasar.
  2. Belajar memberi, berbagi, dan memperoleh kasih sayang.
  3. Belajar menguasai keterampilan motorik halus dan kasar.
  4. Belajar mengenal lingkungan fisik dan mengendalikan.
  5. Belajar memahami kejiwaan orang lain.
  6. Belajar bergaul untuk mengembangkan hubungan sosial yang positif.
  7. Mengembangkan pengendalian diri, yakni belajar untuk bertingkah laku sesuai dengan tuntutan masyarakatnya.
  8. Belajar bermacam-macam peran orang dalam masyarakat.
  9. Belajar untuk mengenal budaya daerah masing-masing, termasuk belajar ajaran dan tuntunan agama yang dianutnya.
  10. Mengembangkan perasaan positif dalam berhubungan dengan lingkungan.

 

Dalam rangka mencapai tujuan-tujuan tersebut, diperlukan sejumlah langkah strategis yang ditempuh secara integral dan berkesinambungan. Hal pokok yang penulis tawarkan disini adalah menjadikan pendidikan agama di Sekolah Dasar sebagai ujung tombak penanaman moralitas pada diri peserta didik.

Pendidikan agama di Sekolah Dasar seringkali bersifat sentralistik dan ekspositoris dengan asumsi tabularasa pada diri siswa. Dalam konsep tabularasa, siswa dianggap seperti selembar kertas kosong yang masih bersih, guru lah yang memberinya warma dan melukis ataupun menuliskan hal-hal di kertas itu. Padahal, secara riil siswa tumbuh dan berkembang bukan dalam keadaan kosong, akan tetapi terpengaruh oleh lingkungan tempat ia hidup dengan segala bentuk dinamika kultural dan religi yang menyertai tumbuh kembangnya.

Pendidikan agama dewasa ini, telah menjauhkan peserta didik untuk menjadi pribadi yang matang dan kritis. Kompetensi keagamaan lebih menekankan pada aspek-aspek ritual yang berupa hafalan dan doa doa yang terus dilafalkan secara berulang-ulang. Kepastian dan keyakinan nilai absolut agama seringkali membuat para pemeluknya menjadi fanatik dan sukar menerima perbedaan. Sukar menerima perbedaan ini terwujud melalui sikap yang enggan untuk berdiskusi dan membuka dialog dengan pihak-pihak yang telah terkena steriotipe. Pendidikan agama pada akhirnya menjauh dari akal sehat dan tradisi intelektual yang sejak dulu telah menjadi energi kekuatan Islam.[2]

Lebih lanjut, menurut Eko, pendidikan agama tidak mengajarkan tentang realitas yang pluralistik dan sistem sosial yang mengalami pergeseran. Padahal, ada etika global yang termanifestasikan dalam nilai demokrasi, hak asasi manusia, dan penghargaan akan tata lingkungan.

Hal inilah yang seringkali menjadi bahan refleksi mendasar bagi para guru, khususnya di tingkat pendidikan dasar, yakni dengan mengembangkan metode eksplorasi yang demokratis pada pembelajaran agama. Dikatakan pembelajaran sebab penekanan yang ingin dicapai disini adalah pada pengembangan cara atau metode dan rekayasa sumber belajar atau media agar benar-benar menumbuhkan semangat dan kreativitas siswa untuk melakukan pembelajaran secara mandiri. Sehingga, siswa bisa tetap melaksanakan kegiatan belajar sekalipun guru tidak berada dalam satu ruangan yang sama (kelas).

Sampai saat ini, telah dikembangkan sekian banyak macam teori pembelajaran yang cukup berpengaruh pada kegiatan pembelajaran, diantaranya ada teori behavioristik, kognitif, konstruktivistik, humanistik, dan lain sebagainya. Umumnya, teori pembelajaran muncul karena evaluasi kelemahan teori belajar yang muncul sebelumnya.

Permasalahan yang mengakar mengenai evaluasi pendiidikan agama di Indonesia yang lebih bersifat sentralistik dan menekankan pada aspek kognisi berupa hafalan semata tak lepas dari diterapkannya teori pembelajaran behavioristik yang secara dominan telah lama memberikan pengaruhnya bagi pendidikan Indonesia. Teori inilah yang oleh banyak pihak dinilai bertanggungjawab atas terciptanya manusia-manusia mekanis, sebab teori ini lebih menekankan evaluasi pembelajaran pada perubahan tingkah laku yang bisa diamati dan terukur, sehingga hal-hal yang diluar itu akan diabaikan.

Dalam perkembangan selanjutnya, muncul teori humanistik yang lebih menekankan pada upaya pembelajaran yang menekankan pada upaya ‘memanusiakan manusia’. Namun, evaluasi yang kemudian muncul adalah rendahnya minat belajar siswa dalam mendalami keilmuan yang semestinya ia kuasai. Merespon hal tersebut, muncullah teori belajar konstruktivistik yang menekankan agar pengetahuan tentang ide dideskontruksi sendiri oleh siswa, sehingga guru tak lagi bertugas menuangkan air ke dalam gelas atau menyuapi siswa. Kelemahan teori ini adalah gagalnya upaya siswa dalam menemukan hubungan yang jelas antara pengetahuan yang diperoleh di sekolah dan fungsi penerapannya dalam kehidupan nyata. Maka kemudian, lahir dan berkembanglah teori belajar kontekstual yang sifatnya relatif pragmatis dan kurang menekankan pada integrasi ilmu pengetahuan yang terstruktur.

Kritik dan koreksi terhadap teori pembelajaran yang penulis sajikan di awal merupakan bentuk dinamika positif dalam sistem pendidikan di Indonesia untuk senantiasa bersikap responsive terhadap kondisi kontemporer bangsa.

Menyikapi maraknya kekerasan yang dilakukan para pelajar kita belakangan ini, penumbuhan nilai-nilai keagamaan yang kental dengan penananaman nilai-nilai moral yang luhur dengan metode pendidikan agama yang demokratis dan eksploratif menjadi tawaran solusi metode alternatif pembelajaran agama di Sekolah Dasar. Disini, guru lebih berperan sebagai fasilitator yang mencoba menggugah keberagamaan siswa dengan pemaknaan dan penafsiran yang mereka jadikan refleksi secara mandiri, selanjutnya guru diharapkan mengambil peran ganda sebagai mediator sekaligus rekan belajar siswa bagi terciptanya ruang komunikasi yang ‘lancar’ antara pengalaman empirik keberagamaan siswa dengan materi ajar yang terdapat dalam silabus.

Yang perlu digarisbawahi adalah, peserta didik diajar pendidikan agama bukan untuk menuntut mereka menguasi pengetahuan tentang nilai, akan tetapi secara kreatif dan konstruktif menggunakan nilai untuk berkomunikasi, sehingga siswa senantiasa dapat menghayati dalam pengamalan perbuatan religius yang dialaminya secara empirik.

Selanjutnya, agar lulusan pendidikan nasional memiliki keunggulan kompetitif sesuai standar mutu pendidikan sehingga dapat secara proaktif merespon berbagai perkembangan informasi, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan seni, lembaga/ institusi pendidikan terkait harus menjaga relevansi pembelajaran agama ini dengan nilai-nilai kebangsaan yang multikultural dan demokratis.

 

* Staff Kaderisasi KAMMI Shoyyub UNS tahun 2012-tercatat sebagai Mahasiswi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP UNS angkatan 2012

 

Catatan :

 [1] Lihat lebih lanjut dalam HM. Nashruddin Anshorriy Ch, Pendidikan Berwawasan Kebangsaan, halaman 187

[2] Eko Prasetyo, Islam itu Agama Perlawanan, halaman 92

 

Referensi lain :

Bahan Ajar Cetak Strategi Pembelajaran Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi , oleh Soli Abimanyu, dkk

Bahan Presentasi kelompok mata kuliah Ilmu Pendidikan kelas A PGSD UNS angkatan 2012

UU Sisdiknas tahun 2003

 

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

KAMMI Komisariat Djuanda

"Sejarah telah membuktikan peranan pemuda atau mahasiswa begitu penting dalam menggagas sebuah perubahan dalam suatu negara"

alqaan ilmi

kumpulan catatan kehidupan

Live to Write - Write to Live

We live to write and write to live ... professional writers talk about the craft and business of writing

The Thesis Whisperer

Just like the horse whisperer - but with more pages

KAMMI MADANI

Terus Berkarya dan Menginspirasi

KAMMI Komisariat UGM

KAMMI Komisariat UGM adalah Gerakan yang Memegang Teguh Asas Islam dan Kerakyatan. Menolak Penindasan Manusia atas Manusia!

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Perindu Doa Rabithah

Terkadang Melalui Dosa Kita Bisa Dewasa. Dewasa Menuju Pada Sebuah Kebaikan. Karena Kebaikan adalah Sebuah Proses Panjang yang Tak Bisa Kita Nilai Atas Apa yang Dilihat Hari ini

REKAYASA PERGERAKAN

Bergerak, Menginspirasi Selamanya

Rumus Kehidupan

Terinspirasi dan Menginspirasi dengan Ikhlas, just for ALLAH

Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Jurnal KAMMI Kultural

Referensi Pemikiran dan Ideologi KAMMI ::: POST-TARBIYAH ::: Corong Pembaharuan Gerakan Muda Islam Indonesia

Verba Volant, Scripta Manent

Berhati-hatilah terhadap asumsi, terkadang ia melukai hati, mematikan silaturahim

Alikta Hasnah Safitri

Menghaluskan Rasa, Menajamkan Pikir

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d blogger menyukai ini: