“Popularitas Capres 2014: Gaya Blusukan”

 

Gambaroleh : Anggel D. Satria*

Sebagai pematik awalan rasanya perlu mengupgrade kapasitas diri. Memahami ranah gerak dan menuangkan dalam bentuk tulisan atau aksi lapangan. Ditengah pergulatan konflik ideologisasi internal muncul diskusi2 dipersimpangan jalan sampai menghasilkan kubu2 “Langit dan Tanah” (baca: katanya:D) Ane izin share tulisan lama sebenarnya dgn sedikit revisi, tapi masih relevan dan hangat untuk diperbincangkan..:)

Meningkatnya suhu politik di Indonesia merupakan tingginya konstelasi panggung perpolitikan yang akan memperebutkan kursi kekuasan 2014. Jargon-jargon andalan menjadi sajian rutin bagi masyarakat baik di media elektronik maupaun baliho-baliho sekitar tempat umum. Kalau saja etika berpolitik yang santun hanya sekadar jargon, maka rakyatlah yang akhirnya merasakan hasil buruk dari sistem demokrasi yang ada. Belum lagi dengan politik simbol yang terus dilakukan untuk membentuk persepsi masyarakat. Para elit yang berebut kekuasaan, kecenderungannya masih menggunakan pola/gaya pada jargon dan simbol-simbol untuk popularitas diri.

Persoalan sekarang adalah, apakah popularitas capres dengan metode tadi dapat menjamin sang capres mendapat tiket dari partai politik untuk mencalonkan? Dan bagaimana penerimaan sang capres dari elit partai politik? Pertanyaan ini, saya kira sering kita temukan, apalagi popularitas capres yang berebut tiket Pilpres pada 2014 nanti, jumlahnya sangat banyak. Saya kira, tidak hanya persoalan tingkat popularitas saja yang harus dimiliki capres menuju Pilpres 2014. Tapi, lebih jauh dari itu karena apa yang dipertontonkan partai politik selama ini, menunjukkan bahwa dominasi partai merupakan penentu segalanya.

Meski popularitas seorang capres tinggi, namun tidak diikuti pendekatan dengan partai politik akan terasa hambar. Kita dapat melihat bahwa suasana politik di internal parpol, tidak mengharuskan parpol harus mencalonkan presiden berdasarkan tingkat popularitas seorang calon. Tapi, sebaliknya cenderung lebih pragmatis, termasuk pendekatan-pendekatan yang bersifat finansial, dan kesiapan sang capres bergerak untuk mengelilingi Indonesia. Anomali!

Popularitas: Gaya Blusukan
Ada yang menarik, ketika kita melihat para capres yang mulai bermunculan. Penyebutan nama capres tidak lain, karena dilihat dari tampilan figur di media-media elektronik. Banyak model yang dilakukan sang figur, membius simpatik masyarakat. Apalagi dengan masyarakat menengah kebawah, sangat cocok ketika dilakukan di Indonesia. Sebut saja Jokowi Gubernur DKI Jakarta.

Tokoh baru di belantika politik Indonesia ini, seakan membius ratusan juta rakyat Indonesia. Gaya kepemimpinan yang dilakukannya selama memimpin Wali Kota Solo belum lama ini, ternyata mendapat hati di mata masyarakat Solo. Begitu juga, setelah Jokowi mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta. Gaya blusukan atau turun langsung ke masyarakat, ternyata menaikkan elektabilitas Jokowi. Tanpa di sadari juga, gaya atau pola yang seperti itu menjadi cocok di hati rakyat, mengingat pangsa pasar yang mayoritas penduduk Indonesia merupakan menengah kebawah. Sehingga banyak pengamat dan beberapa lembaga survey mencalonkan Jokowi untuk tampil sebagai salah satu capres pada Pilpres 2014 nanti.

Dalam bahasa politik tentu tidak ada yang kebetulan. Apa yang dilakukan Jokowi saat ini, tentu tidak serta merta terkenal begitu saja. Jokowi belakangan ini menjadi incaran media, baik media cetak maupun media elektronik dengan gaya blusukannya. Hal ini tentu menjadi alat personal branding yang cukup efektif. Hasil survey dilembaga penelitian menempatkan Jokowi termasuk capres paling populer di media sosial disusul Dahlan Iskan dan HattaRajasa. Polling yang dilakukan menempatkan Jokowi pada urutan teratas. Jokowi menjadi kandidat capres terpopuler di media sosial sebesar 55,97 persen. Disusul Dahlan Iskan berada di urutan kedua dengan angka 17,64 persen, sedangkan Hatta Rajasa dengan 7,03 persen (lihat: Indexpolitica.com ). Fenomena kepopuleran Jokowi saat kini membuktikan bahwa sudah tidak zamannya lagi politik janji atau tulisan baliho, gaya blusukan dengan penampilan ala kadarnya menjadi logika publik yang sangat rasional untuk menanamkan persepsi positif pada masyarakat. Saking hebohnya, kemudian berkembang sebuah pembicaraan di masyarakat bahwa calon presiden manapun kalau ditandemkan dengan Jokowi kemungkinan bisa memenangkan pemilu kursi nomor satu Indonesia

Epilog
Antara popularitas dan blusukan, merupakan hal terpenting dalam komunikasi politik di Indonesia saat ini. Meski Pilpres 2014 masih lama, namun geliat mencapreskan tokoh merupakan hal yang hangat diperbincangkan. Jokowi merupakan fenomena geliat politik terkini di Indonesia. Akhirnya, kita hanya menanti, apakah partai politik masih mempertahankan tradisi lamanya, yakni capres punya finansial kuat? Mari tunggu capres-capres gaya Blusukan!

*Sekjend KAMMI Komisariat Shoyyub UNS 2013
www.an99elsatria.wordpress.com

Categories: Uncategorized | 3 Komentar

Navigasi pos

3 thoughts on ““Popularitas Capres 2014: Gaya Blusukan”

  1. Gila blusukan,sampai-sampai jadi penghibur media, Asal Media Senang, hem, kotak2, gaya jawa, ndeso, hmmm… jangan2 juga jadi fashion 2014,hehe

    eh min,beneran tu penulisnya dah jadi Sekjend?/?

  2. keren, pak. bacaan mu kuat pasti

  3. itulah efek postmodernisme

    insyaAllah sudah jadi sekjend, kemarin baru dilantik🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

KAMMI Komisariat Djuanda

"Sejarah telah membuktikan peranan pemuda atau mahasiswa begitu penting dalam menggagas sebuah perubahan dalam suatu negara"

alqaan ilmi

kumpulan catatan kehidupan

Live to Write - Write to Live

We live to write and write to live ... professional writers talk about the craft and business of writing

The Thesis Whisperer

Just like the horse whisperer - but with more pages

KAMMI MADANI

Terus Berkarya dan Menginspirasi

KAMMI Komisariat UGM

KAMMI Komisariat UGM adalah Gerakan yang Memegang Teguh Asas Islam dan Kerakyatan. Menolak Penindasan Manusia atas Manusia!

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Perindu Doa Rabithah

Terkadang Melalui Dosa Kita Bisa Dewasa. Dewasa Menuju Pada Sebuah Kebaikan. Karena Kebaikan adalah Sebuah Proses Panjang yang Tak Bisa Kita Nilai Atas Apa yang Dilihat Hari ini

REKAYASA PERGERAKAN

Bergerak, Menginspirasi Selamanya

Rumus Kehidupan

Terinspirasi dan Menginspirasi dengan Ikhlas, just for ALLAH

Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Jurnal KAMMI Kultural

Referensi Pemikiran dan Ideologi KAMMI ::: POST-TARBIYAH ::: Corong Pembaharuan Gerakan Muda Islam Indonesia

Verba Volant, Scripta Manent

Berhati-hatilah terhadap asumsi, terkadang ia melukai hati, mematikan silaturahim

Alikta Hasnah Safitri

Menghaluskan Rasa, Menajamkan Pikir

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d blogger menyukai ini: