2062

  • Oleh : Ardi Amsir Amran / Kader KAMMI Komisariat Shalahuddin Al Ayyubi UNS


              Pekat langit masih membayangi atmosfir. Lengang. Sayup menjalari suasana pagi itu dengan lantunan tilawah yang memantul dari beberapa masjid di ratusan meter sana. Rerumputan dan tetumbuhan kerdil sedang menengadahkan sayap-sayap hijaunya. Embun bertelekan ria dikulit dedaunan. Sesekali cetisan gutasi mengisi ketenangan pagi.  

    Lelaki renta itu sudah terbiasa berada disitu. Beranda depan rumahnya. Seringkali ia hanya memberikan alasan, ingin menikmati kesyahduan fajar.

    “Tehnya masih hangat Kek, diminum ya…”, sapa Rizqon menghidangkan.

     Lelaki renta itu memandang Rizqon seketika, sekejap ia kembali mashyuk dengan buku agenda berukuran sedang ditangannya. Ulah lelaki tua itu selalu bisa ditebak, setiap harinya jika tak sakit ia akan bertengger di beranda sambil menekuri dan repot membolak balik buku agendanya yang sudah sangat lusuh. Tulisan di dalamnya sudah lamur, kertasnya menguning kecoklatan.

    Rizqon hanya mafhum dengan kondisi Kakek, dia memang mesti sabar tiap ba’da subuh mesti menemani sang Kakek hingga terbit dhuha. Cukup lama dan menjenuhkan memang. Tapi itulah rizqon, dia hanya bisa belajar memberikan ketulusan. Ia tahu itu.

     Kali ini lelaki tua itu tengah menerawang sebuah kertas kira-kira berukuran 10 x 5 cm yang juga sudah kian lusuh. Rizqon memandang penasaran.

    “Hehehehehe…..hehe…hehe……..”, cekikiknya.

    Rizqon  mengerutkan kening.

    “2012….”, sambung lelaki tua

    “2012 ??? apa itu Kek..??”, Rizqon menyambut

     

    “Hehehe…… Rizqon pernah lihat ini..??”

    “Ah…sepertinya pernah, tapi entah kapan dan dimana..”

    “Benar dugaanku, anak-anak  zaman sekarang akan sangat asing dengannya”

    “Sebenarnya lembaran apa itu Kek ?”

    Lelaki  tua itu  tertunduk. Tangannya  kembali menyelipkan lembar mini itu pada buku agenda. Sejurus ia menatap kedepan, raut yang menyiratkan sebuah cerita.

    Hand phone rizqon berdering. Sebuah telepon.

    ***

    langkahnya tergopoh-gopoh.

    “Aku pamit dulu Kek. Risa, jaga Kakek dan Nenek baik-baik ya..jangan lupa malam ini Kakek harusnya makan vitaminnya yang terakhir.sudah aku sediakan di meja makan. Aku kembali lima hari lagi. Sekalian kubawakan tablet yang baru.”

    “Iya Kak, Wa’alaikumsalam warahmatullah…”

    “ Tunggu qon !”, tahan Kakekny

    “Ada apa Kek?”

    “Kau bawalah ini. Jika kau sudah sampai di Jogja, temuilah Pak Ahmad, serahkan itu padanya. Ini Alamatnya. Perkenalkan saja dirimu sebagai cucuku. Tentu dia belum lupa padaku”, lirih Kakeknya.

    Jam ditangan kirinya menunjukkan pukul 16.17 WIB. Telepon yang diterimanya pagi tadi meminta ia harus segera ke Jogja. Ibunya sakit keras. Jantungnya kumat. kali ini ibunya harus diopname dan dibantu oksigen. Ia panik luar biasa. Risa Adik perempuannya ia minta merawat Kakek dan Neneknya.

     

    Mestinya ia tiba di Jogja pukul 17.45. hematnya ia langsung menuju Rumah Sakit Umum Jogja. Matic sporty itu melaju halus. Menjelang maghrib, lampu-lampu di tepi seakan berkejaran meninggalkan laju maticnya. Tak terasa pipinya basah. Ia menitikkan air mata. Wajah Ibunya yang sedang sakit terus membayang dihadapannya. Tapi ia tidak kehilangan fokus. Pikirnya ia harus bisa memeluk Ibunya sebelum adzan maghrib. Ia panik luar biasa. Lampu-lampu kota masih berkejaran meninggalkan lajunya.

    ***

    “ Sadaqallaahul’adziim…Wa’alaikum salaam warahmatullaahi wabarakaatuh… tunggu sebentar ya..”

    Fiyah melerai mukenanya. Setiap  ba’da sholat ia selalu sempatkan untuk tilawah dua lembar. Tak terkecuali maghrib itu. Sesaat ia sudah terbit didepan pintu.

    “Maaf Mba, apa benar ini rumah Pak Ahmad?”

    “Oh iya.. benar Mas. Saya cucunya”

    “Alhamdulillah.. kebetulan saya ada perlu dengan beliau. Saya diminta menemui beliau”

    “Oh, boleh. Masuk dulu Mas. Saya panggilkan sebentar. Silakan duduk”

    Sepuluh menit berlalu. Pak Ahmad tampak dituntun berhati-hati oleh Fiyah. Kini Pak Ahmad sudah bersandar di sofa empuk nan sederhana itu. Sosok yang ia nantikan sekarang dihadapannya. Pak Ahmad ternyata lumayan lebih sehat dari Kakeknya. Walau mesti dituntun namun kakinya masih kokoh menahan tubuhnya. Sorot matanya  berkharisma. Kulit wajahnya yang mengerut tak menepis wibawanya. Rizqon segera  menyadari. Bisik batinnya mengatakan kalau orang tua yang dihadapannya sekarang pastilah bukan orang biasa.  Tapi ia masih tidak mengerti, apa maksud Kakeknya memintanya  menemui Pak Ahmad. Ia tak mengerti  pula dihadapan Pak Ahmad dirinya jadi kikuk, grogi.

    “Ehmmm…..uhuuuk..uhuukk…”, Pak Ahmad memecah dinginnya pertemuan di ruang itu.

    Diiringi sedikit senyum dan anggukan, tanda Fiyah mempersilakan Rizqon memulai pembicaraan malam itu.

    “ Ada apa anak muda..?? uhuuk..uhuuk..”

    Hatur Pak Ahmad sebelum Rizqon angkat bicara.

    “Emmm…. sebelumnya saya mohon maaf Pak. Mestinya saya meniatkan kesini siang tadi. Tetapi berhubung saya harus berlama-lama mencari alamat Bapak, jadinya baru ketemu sekarang. Begini Pak, saya Rizqon Hanif, saya datang dari solo untuk menyampaikan ini”, polos tutur Rizqon sambil menyerahkan amplop yang berisi selembar kertas mini titipan Kakeknya.

    Penasaran, Tangan Pak Ahmad menyambut amplop kecil itu. Dibukanya. Lembar mini itu diangkat tepat di bawah sinar lampu. Kondisinya yang sangat lusuh, buram dan kabur  membuatnya sedikit kesulitan tuk menerka isi halamannya. Fiyah terbawa suasana, ia pandang lekat-lekat lembaran itu dengan kening sedikit mengerut. Rizqon yang sedari tadi stand by disisi Pak Ahmad bersikap tenang menanti komentar . 

     “Allahu Akbar …!!! Allahu Akbar…!!!”, lirih Pak Ahmad tiba-tiba bertakbir sambil berdiri.

    Fiyah terkejut  menyusul berdiri. Ia belum mengerti apa yang terjadi pada Kakeknya.

    “Nak Rizqon, sebenarnya kau siapa ? anaknya siapa?” serbu Pak Ahmad.

    “Oh iya,.. maaf Pak, tadi saya lupa memberitahu. Saya cucunya Pak Rafli di Solo. Sebenarnya beliaulah yang meminta saya khusus menemui Bapak disini dan Kakek saya pula yang  menitipkan lembar itu”, sergah Rizqon agak latah.

     

    “ Rafli Ghazali? Ohh… saudaraku…”, desah Pak Ahmad.

    Tiba-tiba Pak Ahmad menghambur mendekap Rizqon rapat. Di elusnya ia, dikecupnya kening Rizqon. Pak Ahmad menangis dipundak Rizqon. Fiyah semakin kaku ditempatnya. Sementara Rizqon tak berdaya,ia shock tapi berusaha menenangkan diri. Ia pun kaku tak tahu harus berbuat apa dengan sikap Pak Ahmad yang sangat aneh bagi ia dan Fiyah.

    Pak Ahmad kembali mendarat di sofa. Ia raih kembali lembar kecil itu sambil memandanginya. Sesekali ia usap air matanya. Rizqon dan Fiyah memilih diam membiarkan Pak Ahmad tenang.

    ***

    “Nak Rizqon, barangkali pantas jika kusebut diriku gurun sahara, dan nak Rizqon adalah limpahan hujan yang menaburi kulit sahara. Malam ini bapak sangat senang…senang sekali… rupanya Allah telah mengatur pertemuan yang begitu mulia. Pertemuan yang boleh jadi akan kembali mengalirkan mata air peradaban yang sempat kerontang. Baiklah,. Langsung saja. Nak, lembar kecil lusuh nan kumal ini sebenarnya adalah stiker sebuah organisasi kemahasiswaan yang bernama KAMMI atau Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia. stiker ini sendiri menggambarkan lambang KAMMI, hanya saja karena sudah terlalu lawas  jadi tak jelas begini. Lengkapnya, KAMMI memiliki lambang yang menggambarkan satu tangan kanan berwarna putih yang tegak menyangga atau menggenggam bola bumi, tangan itu diitari lima bunga mawar merah yang menjalar miring keatas, disekitar samping kiri dan kanan  tangan diberi sketsa zigzag berwarna hijau bak rumput setinggi setengah tinggi tangan. Sekali lagi bapak sangat senang malam ini, nak Rizqon. Kehadiranmu mengantarkan Bapak kembali merasakan enam puluh tahun silam dimana KAMMI masih berjaya dengan kibaran wibawa panji-panjinya.  Sementara Kakekmu, kau tahu ? Kakekmu, Rafli Ghazali yang biasa dipanggil bang Zali, Ia bolehlah dikatakan singanya KAMMI saat itu. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Departemen Kaderisasi, sementara saya kebetulan diamanahkan sebagai Ketua Komisariat. Kakekmu itu adalah orang yang luar biasa dimasanya. Ia teman karibku, saudara seperjuangan, seperguruan, sekostan bahkan.hehe..”

     

    Pemandangan yang sangat berbeda dari sebelumnya. Barusan Pak Ahmad bercakap luar biasa semangatnya. Apalagi pada saat berkisah nostalgianya dengan Rafli Ghazali, Kakek Rizqon. Fiyah menghidangkan tiga gelas susu putih hangat dan dua piring makanan ringan, yang satunya sepiring keripik singkong goreng dan satunya lagi sepiring bakpia pathok khas Jogjakarta.

    “Silahkan dinikmati Mas Rizqon”, sela Fiyah masih dengan khas senyumnya.

    “Subhanallah…ckckck…luar biasa ya..tapi, apa Bapak bisa menjelaskan kepada saya, kok KAMMI yang katanya sangat hebat itu sekarang pada kemana? Namanya saja sudah tak terdengar lagi dikalangan kami para mahasiswa. Apakah benar-benar sudah menjadi sejarah yang tertimbun?”, kritis Rizqon setelah menyeruput sedikit susu.

    “Nak Rizqon kuliah dimana?”, balik Pak Ahmad.

    “Di UNS Pak”

    “Allahu Akbar… sesungguhnya disana pulalah medan tempur saya dan Kakekmu. Begini nak, kalau tadi saya katakan bahwa pada tahun 2012 dengan segala kekuatan kami masih bisa meneriakkan kebenaran, justru sesuatu yang paling kami takuti benar-benar terjadi ditahun 2015. KAMMI runtuh..!!!”, Pak Ahmad kembali meratap. Ia kembali menangis. Tak sanggup berbicara lagi. Sedih yang teramat sangat.

    Sekali lagi Rizqon dan Fiyah hanya memilih diam. Mereka serempak tertunduk. Ruang itu tersulap sepi sebentar. Hanya sesenggukan Pak Ahmad yang sesekali menimpali.

    “Kami cuma tiba-tiba merasa menjadi orang terbodoh dan yang paling bersalah !!!” geram Pak Ahmad.

     

    “Mmmmm…….maaf Pak, sebenarnya apa yang terjadi?”, Rizqon memberanikan diri angkat bicara.

    Pak Ahmad mengangkat wajahnya.sendu. Ia menatap Rizqon dan Fiyah bergantian lekat-lekat.

    “Aku malu nak mengatakan hal ini padamu. Tapi kamu harus tahu. Waktu itu……2013….. kekhawatiran mulai merongrong kesadaran kami. Perlahan kami menyaksikan semangat teman-teman menyurut. Rapat-rapat mulai jarang,  sesama pengurus dan anggota yang lebih sering disebut kader tak lagi ada saling mengingatkan apalagi sekedar peduli, ukhuwah kami mulai lunglai, tak terlihat lagi gairah untuk sekedar merekrut anggota baru, tak lagi terasa panasnya teriakan aksi, markas yang dahulu ramai gempita tiba-tiba diliput sunyi , para kadernya lebih senang bergumul  di kampus, ah….sebenarnya akupun tak tega mengatakan kalau mereka sibuk dengan urusan mereka sendiri, semoga perasaanku salah.  Sekian lama kami tetap bersabar melihat ulah saudara-saudari kami yang katanya kader, yang katanya pengurus, lebih sering meramaikan pertemuan-pertemuan ikhtilat dari pada menyempatkan syuro, lebih suka mengejar seminar-seminar demi meraih sertifikat dari pada memberikan ide atau mengadakan seminar untuk KAMMI, kuliah akademik menjadi ambisi satu-satunya yang sangat kental tanpa sedikitpun ikut berpikir tentang nasib dakwah ini. mereka lebih asyik ngomongin lawan jenis daripada terpaku di majelis-majelis kajian, lebih asyik katanya ber-SMS ria dari pada sekedar bercerocos dalam forum-forum diskusi ke-KAMMI-an, komentar-komentar murahan lebih banyak ia tuangkan pada wall Facebook dari pada menggoreskan daya kritisnya pada lembar-lembar tulisan berharga. Yang juga menyedihkan adalah akhlak mereka yang tak berbeda dengan mahasiswa biasa, sangat terlihat mereka tak lagi memperhatikan batas-batas syar’i interaksi pria dan wanita. Astaghfirullah…. !! Huffhh… sudahlah, terlalu banyak yang sudah aku beberkan. Seharusnya aku tak membicarakannya seterbuka ini. Tapi bagaimanapun juga apapun yang telah terjadi harus menjadi pelajaran bagi generasi selanjutnya. Kau Rizqon, kau Fiyah, saya punya harapan besar pada kalian, terlebih harapan umat ini”.

    “ Innalillahi wa inna ilaihi raji’un…. ternyata seperti itu. Lalu apa yang Bapak lakukan setelah melihat kondisi demikian ?”, sergah Rizqon

    “ Sudah kuduga nak Rizqon kan bertanya seperti ini. (Pak Ahmad menghela nafas). Segala cara sudah kami lakukan nak, bahkan sampai melibatkan para Ustadz segala. Ternyata tetap saja. Akhirnya kami tinggal tawakkal saja. Puncaknya diakhir tahun 2014 kondisi internal Komisariat semakin mengkhawatirkan ! untuk pembentukan struktur saja SDM yang mesti ditempatkan tidak mencukupi. Kader Komisariat semakin merosot. Nihil. Sudah bisa ditebak, untuk kepengurusan selanjutnya tak ada yang mampu menahkodai. Begitulah,pendek kata singkat cerita, KAMMI Komisariat Sholahuddin Al Ayyubi UNS tinggallah nama. Ditahun 2015 namanya sama sekali tak terdengar lagi, gaungny benar-benar hilang dan… hingga sekarang”, Pak Ahmad kembali menghela napas, kali ini agak dalam. Gurat wajahnya mendekam.

    Adzan meliuk-liuk syahdu.

    “Ah,. Sudah isya, kita sholat dulu ya Kek, Mas Rizqon”, seru Fiyah.

    Pak Ahmad dan Rizqon serempak mengangguk.

    ***

    Kejora tak mau kalah dengan pekatnya malam. Sementara sang ratu malam biar bersekutu dengan si kejora. Ia mengirimkan sinarnya. Malam yang gegap ceria. Seluruh penduduk langit dan bumi bertasbih malam itu.  Selepas isya Pak Ahmad, Fiyah dan Rizqon kembali merapat di ruang tamu.

    “Ngapunten Pak, saya harus segera ke Rumah Sakit. Sudah terlalu lama saya disini”, hatur Rizqon

    “Emm…Siapa yang sakit, Mas Rizqon ?”, Fiyah tiba-tiba tersentak memperhatikan.

    “Oh, Ibu saya, Mba”

    “Oya ? Di Rumah Sakit mana ?”

    “Mm… Di Rumah Sakit Umum Daerah Jogja”

    “Oo, kebetulan sekali aku bekerja disana sebagai Asisten Dokter Ahli Jantung. Sudah empat hari ini saya ditugaskan intens untuk mengontrol seorang pasien wanita berumur lima puluh tiga tahun”

    “Masya Allah..Dia Ibuku”

    “Oya?”

    “Sudah empat hari Ia dirawat disana. Dan sudah empat hari ini juga saya ikut menjaga Ibu, tapi kenapa kita tidak bertemu ya, mm..maaf, Dokter Fiyah?”, tutur Rizqon lebih cair. Senyumnya malu.

    “ Subhanallah… Dimana-mana skenario Allah yang paling indah. Kabar terakhir yang kudapat dari perawat disana InsyaAllah Ibu Mas Rizqon sudah bisa dibawa pulang besok siang. paginya sebelum berkemas saya kan mengontrol tekanannya yang terakhir”.

    “ Wah, terimakasih banyak,mm.. Bu Dokter.hehe”

    “ Hmm…sama-sama Mas Rizqon”, senyum Fiyah kali ini lebih anggun.

    Pak Ahmad cukup asyik memperhatikan pembicaraan Rizqon dan cucunya,Fiyah. Dalam hati ia berkata, “dasar anak muda, kalau sudah ketemu dan cocok ceritanya ya begini jadinya, lupa dengan sekitar”.

    “ehmmm….” Pak Ahmad mengecoh.

    “ Eh.., iya,Saya pamit dulu ya Pak”

    “Oh, iya nak. Sekali lagi, saya punya harapan besar padamu”, menepuk pundak Rizqon.

    “Baik, saya paham maksud Bapak. Tapi, apa yang mesti saya lakukan Pak?”

    “ Nak Rizqon semester berapa?”

    “Saya semester tujuh Pak”

    “Baiklah, yang perlu kau lakukan, pertama, datangilah para pendahulu KAMMI yang masih tersisa, besok pagi datanglah lagi kemari akan kuberikan nama-nama beserta alamat lengkapnya. Mereka akan membimbingmu. Selanjutnya kumpulkanlah para aktivis-organisatoris dikampusmu, berdialoglah dengan mereka, perlu kau kumpulkan teman-temanmu,adik-adikmu, ajak mereka dari hati kehati untuk bergabung, setelah mereka semua berhasil kau kumpulkan, jaga mereka baik-baik. Kaderisasi..kaderisasi..kaderisasi..!!! inilah modal hidup matinya KAMMI. Ia harga mati !! soal kaderisasi,banyak-banyaklah belajar dari Kakekmu”

    “nggih Pak..Sami’na wa atho’na..Mohon doanya”

    “Pasti nak, Barakallah…”

    ***

    “ Hadirin yang dimuliakan Allah SWT. Selanjutnya akan kami sampaikan Curriculum Vitae Keynote Speaker kita pada Seminar kali ini, beliau berasal dari sebuah kota yang begitu kental dengan latar budayanya, Solo.  Terdengar kabar beliau adalah penulis papan atas dan pembicara senior diberbagai negara Asia dan Eropa. Oh ya, perkenalkan, Pembicara kita ini juga adalah suami dari seorang Dokter Spesialis Jantung yang sangat masyhur akhir-akhir ini yakni Dokter Alfiyah Rahayu, SpJP (K).  Satu lagi tambahan bahwa beliau saat ini menjabat sebagai Ketua KAMMI Pusat Periode 2068-2070. Baiklah, kita sambut Rizqon Hanif, Lc. Takbir…!!! “

      Rumpah ruah bahana takbir menampik sesak volume Ballroom Hotel JW Marriot pagi itu. Elemen pernik interiornya yang italic tak ayal seperti bergetar dalam sulapan fatamorgana. Seminar Internasional Aktivis Mahasiswa Muslim itu membawa satu agenda besar yakni Bedah Pustaka karya Anis Matta “Mencari Pahlawan Indonesia”. Ratusan joli mata seketika hanya tertuju padanya, menunggu satu kata awal dari mulutnya. Mereka terperangah. Mantap ,Rizqon memulai dengan meminjam tuturan Anis Matta :

     “ Ketika kekalahan, tragedi, kelaparan, dan pembantaian mendera jasad Islam kita, kita selalu saja menyoal dua hal: konspirasi Barat dan lemahnya persatuan umat Islam. Tangan-tangan syetan Yahudi seakan merambah di balik setiap musibah yang menimpa kita. Dan kita selalu tak sanggup membendung itu, karena persatuan kita lemah.  Mari kita menyoal persatuan, sejenak, dari sisi lain. Ada banyak faktor yang dapat mempersatukan kita: aqidah, sejarah dan bahasa. Tapi semua faktor tadi tidak berfungsi efektif menyatukan kita. Sementara itu, ada banyak faktor yang sering mengoyak persatuan kita. Misalnya, kebodohan, ashabiyah, ambisi, dan konspirasi dari pihak luar. Mungkin itu yang sering kita dengar setiap kali menyorot masalah persatuan. Tapi di sisi lain yang sebenarnya mungkin teramat remeh, ingin ditampilkan di sini. Persatuan ternyata merupakan refleksi dari ’suasana jiwa’. Ia bukan sekedar konsensus bersama. Ia, sekali lagi, adalah refleksi dari ’suasana jiwa’. Persatuan hanya bisa tercipta di tengah suasana jiwa tertentu dan tak akan terwujud dalam suasana jiwa yang lain. Suasana jiwa yang memungkinkan terciptanya persatuan,

    harus ada pada skala individu dan jamaah”.

    ~ THE END ~

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

KAMMI Komisariat Djuanda

"Sejarah telah membuktikan peranan pemuda atau mahasiswa begitu penting dalam menggagas sebuah perubahan dalam suatu negara"

alqaan ilmi

kumpulan catatan kehidupan

Live to Write - Write to Live

We live to write and write to live ... professional writers talk about the craft and business of writing

The Thesis Whisperer

Just like the horse whisperer - but with more pages

KAMMI MADANI

Terus Berkarya dan Menginspirasi

KAMMI Komisariat UGM

KAMMI Komisariat UGM adalah Gerakan yang Memegang Teguh Asas Islam dan Kerakyatan. Menolak Penindasan Manusia atas Manusia!

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

Perindu Doa Rabithah

Terkadang Melalui Dosa Kita Bisa Dewasa. Dewasa Menuju Pada Sebuah Kebaikan. Karena Kebaikan adalah Sebuah Proses Panjang yang Tak Bisa Kita Nilai Atas Apa yang Dilihat Hari ini

REKAYASA PERGERAKAN

Bergerak, Menginspirasi Selamanya

Rumus Kehidupan

Terinspirasi dan Menginspirasi dengan Ikhlas, just for ALLAH

Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Jurnal KAMMI Kultural

Referensi Pemikiran dan Ideologi KAMMI ::: POST-TARBIYAH ::: Corong Pembaharuan Gerakan Muda Islam Indonesia

Verba Volant, Scripta Manent

Berhati-hatilah terhadap asumsi, terkadang ia melukai hati, mematikan silaturahim

Alikta Hasnah Safitri

Menghaluskan Rasa, Menajamkan Pikir

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d blogger menyukai ini: